Women in Communications: Wanita Karier di Era yang Kian Dinamis

Rangkaian acara webinar bertema “Women in Higher Education” telah dimulai pada Sabtu (17/10) lalu. Diawali dengan virtual talkshow bertajuk “Women in Communications”, acara yang digelar oleh Girl Up Jakarta ini sukses meraih atensi 548 peserta untuk turut bergabung melalui platform Zoom Meeting. Pembicara yang dihadirkan pada sabtu pertama ini adalah Shafinaz Nachiar (News Presenter RCTI) dan Putri Saud (Voice Over Artist). Diketahui bahwa Shafinaz dan Putri sama-sama pernah menempuh pendidikan S-1 Mass Communication di London School of Public Relations (LSPR).

Kenapa Komunikasi?

Shafinaz mengaku bahwa dirinya adalah orang yang visioner dan paham tentang kemauan diri. “Dari kecil mau jadi presenter, mau tampil di depan. Sejak SMA mulai nge-MC. Awalnya mau ke UI, tapi enggak keterima. Jadi masuknya di LSPR,” ujar Shafinaz. 

Berbeda dengan Shafinaz, berawal ketika masih duduk di bangku SMA, Putri bercita-cita ingin bekerja di majalah fashion. Saat itu, ia sebatas merasa keren melihat orang yang sedang men-direct model dan menulis artikel. Selepas berkonsultasi seputar jurusan, sang ayah kemudian menyarankan Putri mengambil jurusan Komunikasi. Dan ternyata ia pun cocok dan nyaman. 

Sedikit dijelaskan oleh Shafinaz, Ilmu Komunikasi bukan semata-mata hanya berbicara di depan publik. “Kalian kadang enggak sadar kalau omongan kalian bisa nge-influence orang, pentingnya personal branding. Komunikasi itu luas, bisa secara langsung maupun enggak langsung,” imbuhnya. 

Jenjang Pendidikan dan Karier

Memiliki passion yang kuat di bidang mass communication memuluskan jalan awal karier Shafinaz. Ketika masih kuliah S-1 di semester enam, ia lolos casting untuk sebuah program dan bekerja di sana selama satu tahun. Shafinaz juga pernah mengikuti pelatihan professional presenting yang dimentori langsung oleh presenter senior terkemuka. Ia mulai bekerja sebagai news presenter di RCTI di usia 22 tahun. 

Walaupun lulus dari jurusan yang sama seperti Shafinaz, tetapi pekerjaan pertama Putri justru sebagai Public Relations (PR) Starbucks Indonesia. “PR enggak cuma membela perusahaan saat mengalami krisis. Tugasnya ada beberapa, salah satunya tadi, crisis management, bikin press release, mengadakan press conference (event management), menyusun program CSR, dan juga menjalin external communication,” jelasnya. 

Lain halnya dengan Shafinaz yang berkecimpung di dunia MC dan presenting, Putri justru mengakui kalau dirinya kurang nyaman dengan pekerjaan di bidang tersebut. “Satu sisi aku enjoy saat public speaking, kadang juga gimana, ya. Aku orangnya panikan, enggak bisa jadi MC. Aku takut kalau tidak menguasai materi, tingkat uncertainty tinggi. Misal tiba-tiba ditanya materi yang tidak ada di persiapan, aku langsung drop,” ungkapnya.

 “Menurut aku, komunikasi adalah jurusan yang bisa masuk ke mana aja. Misal mass comm ke PR bisa, karena basic skill-nya kita juga udah dapat. Kesempatan kerjanya luas, apalagi marketing,” ujarnya. Kini Putri masih tercatat sebagai mahasiswi S-2 Program Studi Public Relations LSPR. Ia mengatakan bahwa sejatinya keinginan menempuh pendidikan yang lebih tinggi utamanya ada pada diri sendiri. Pendidikan tidak hanya sebatas gelar, lebih dari itu. Shafinaz menambahkan, ketika seseorang berpendidikan, tidak hanya derajatnya sendiri yang naik, tetapi juga derajat orang tua, keluarga, dan teman terdekat. 

Putri juga bercerita tentang alasannya menggeluti dunia voice over. Bermula dari tugas kuliah semasa S-1 hingga kerap mengisi suara pada project milik kawan, yang selalu berbuah apresiasi. Bagi seorang voice over talent, dibutuhkan kemampuan mengolah teknik pernapasan untuk dapat men-deliver pesan dengan baik. “Having a good voice adalah bakat terpendam yang aku punya. Aku tidak mengira kalau suaraku bisa ‘dijual’. Udah punya modal suara, tinggal diolah. Long term, kata senior, suara enggak berubah,” ungkap Putri.

Berdasarkan pengalaman, Putri memberikan tiga komponen yang harus diperhatikan dalam voice over. Pertama intonasi, dimulai dari mengeksplorasi apa saja jenis intonasi dan bagaimana cara membawakannya. Kedua tone suara, harus disadari betul bahwa tiap skrip memiliki tone masing-masing yang harus dipahami oleh voice over talent. Ketiga emphasize, berkenaan dengan penekanan ataupun highlight di bagian kata tertentu. 

Tantangan Perempuan dalam Pendidikan dan Karier

Menurutnya, teramat penting untuk menjadi perempuan yang independen, baik dari segi finansial maupun pola pikir. Ibu yang mandiri dan cerdas akan mampu membangun generasi yang lebih baik. Walaupun di sisi lain, ia pun mengakui beratnya tantangan perempuan di Indonesia, yang umumnya dipengaruhi oleh efek budaya dan agama. “Bukan berarti menjadi wanita yang pembangkang atau melawan kodrat, tapi jadi wanita yang dapat menentukan arah dan pilihan hidupnya sendiri. Aku juga visioner, kayak Shafinaz. Aku punya mimpi yang harus aku kejar,” jelas Putri. 

“Perempuan sering di-underestimate. Dia perempuan, dia tidak bisa. Jangan kasih kerjaan ke dia, nanti dia capek. Seolah-olah posisi itu tidak layak untuk dia. Itu yang paling sering terjadi di masyarakat. Kita pake baju apa aja jadi perhatian masyarakat. Perempuan seperti sudah dicap. Stigma yang menghalangi apa yang dilakukan perempuan,” tutur Shafinaz. 

Di lingkungan masyarakat, acap kali ditemui perempuan yang saling menjatuhkan sesamanya. ‘Women support women’ merupakan kalimat yang terus digaungkan Putri. “Masih suka banyak sesama perempuan yang saling julid. Padahal kalau saling dukung kan dampaknya akan jauh lebih positif,” tambahnya. Shafinaz turut berpesan, jangan sampai menurunkan standar diri sendiri untuk menyeimbangkan atau menyesuaikan orang lain. “Never stop learning and exploring, break the stigma,” begitu kiranya inti poin yang di-highlight oleh moderator.

Rencana Lima Tahun Mendatang

Tak mudah bagi Shafinaz untuk bisa mencapai titik sekarang ini. Bahkan ia tak jarang merasa minder dan kurang percaya diri dengan kemampuan, serta sering membandingkan diri dengan orang lain. “Aku adalah presenter paling muda. Aku pernah berada di titik nol, pernah diremehkan. Kenapa sekarang aku bisa, karena aku coba melakukannya berulang-ulang, latihan. Kita harus persiapan matang, tau apa yang mau disampaikan. Jangan fokus sama apa yang kalian tidak bisa. Fokus ke apa yang kalian bisa,” pesan Shafinaz.

Salah satu tokoh Indonesia yang ia kagumi yakni Najwa Shihab, baik dari pengalaman, pola pikir, bagaimana cara pandang terhadap suatu hal, bagaimana membuat talkshow menjadi lebih hidup, serta perihal keberanian dalam menentukan tema dan mengambil keputusan untuk perusahaan. 

Walaupun telah menyelesaikan pendidikan S-2 di kampus yang sama, Shafinaz masih ingin mengejar cita-citanya yang lain. “Aku masih ingin bisa liputan yang keren, ingin bisa punya program atau talkshow sendiri, yang menghadirkan tokoh inspiatif, humanis.  Yang menjadi mimpiku, aku mau bisa bekerja di media internasional BBC. Ingin punya perusahaan media sendiri kayak Narasi, mimpi paling tinggi,” harapnya. Sedangkan target Putri ke depan, ia ingin lulus S-2 dengan IPK memuaskan. Selain itu, sembari jalan sebagai voice over talent, ia juga ingin mencoba apply ke UNESCO. 

Tampaknya ungkapan ‘In life, we cannot please everyone’ memanglah benar adanya. “It’s a terrify moment ketika ada kegagalan. Tapi harus sadar kalo itu buat pelajaran ke depannya. Yang penting aku selalu berusaha jadi baik, terserah orang lain gimana. The best revenge aku lewat prestasi,” tandas Putri. 

Penulis: Annisa Qonita Andini

Editor: I. N. Ishlah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *