FLS Hari Pertama: Keterampilan Wajib untuk Menghadapi Tantangan Pembangunan

Future Leader Summit (FLS) 2020 resmi terlaksana dengan mengusung tema “Akselerasi Agenda Pembangunan Indonesia 2025” yang dimulai 13 hingga 16 Agustus mendatang. Acara FLS tahun ini dihadiri oleh 280 delegasi serta belasan pembicara, yang dihelat secara daring melalui aplikasi Zoom, mengingat belum surutnya situasi pandemi Covid-19. Pada FLS 2020 ini, disediakan tujuh room (ruangan) yang di dalamnya terdapat narasumber-narasumber yang ahli di bidangnya. 

Narasumber pertama adalah Siti Farida, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah. Pada konferensi pers ini, beliau menyatakan bahwa kepedulian pelayanan publik berdampak langsung pada kualitas pelayanan. Beliau juga mengakui penyelenggara layanan publik belum sepenuhnya punya kapasitas yang cukup untuk memberikan layanan yang sesuai, terlebih di tengah pandemi ini.

Siti Farida, Kepala Ombudsman RI Perwakilan Jawa Tengah

“Beberapa terobosan yang sudah dirancang sebelum pandemi ini menemukan momentum tepat, misalnya inovasi layanan dan sistem pemerintah berbasis policy (kebijakan), sehingga pelayanan publik yang berkualitas memang hadir, dirasakan, dan menjadi capaian-capaian bersama,” ujarnya.

Surayah Ryha, Executive Director Project Child Indonesia, mengatakan bahwa masalah Indonesia ada dua, yaitu struktur yang kurang transparan dan belum meratanya pelayanan. Sehingga selain unsur kepemimpinan yang penting untuk membangun Indonesia, keterampilan lain yang tak kalah penting ialah integrasi dengan teknologi, seperti artificial intelligence (kecerdasan buatan) yang membantu pemimpin membuat struktur lebih transparan dan pemerataan pelayanan yang lebih baik. 

Surayah Ryha, Executive Director Project Child Indonesia

Tri Satya Putri Naipospos, Ketua Pengurus CIVAS, menambahkan, keterampilan yang harus dikuasai sekarang ini dalam membangun Indonesia adalah perencanaan publik dan manajemen administrasi pemerintahan. Menurutnya, pemerintahan saat ini memerlukan pemuda-pemuda yang ahli dalam bidang tersebut dan siap menggantikan pemimpin-pemimpin yang akan beristirahat dari jabatannya.

Tri Satya Putri Naipospos, Ketua Pengurus CIVAS

“Dibutuhkan peran serta pemuda-pemuda untuk menjadi pemimpin-pemimpin di pemerintahan yang mungkin bisa menggantikan pemimpin-pemimpin yang terdahulu,” tambahnya. 

Menurut Elisa Sutanudjaja, Executice Director Rujak Center for Urban Studies (RCUS), ada dua keterampilan yang dibutuhkan untuk memimpin. Pertama, mau mendengarkan, yang di sini berarti bersedia mendengarkan pendapat seseorang dan memproses pendapat tersebut. Kedua adalah menjaga rasa ingin tahu yang membuka pikirannya terus menerus sehingga ketika pendapatnya suatu saat berubah, ia bisa menjelaskan alasan dari perubahan tersebut.

Elisa Sutanudjaja, Executice Director Rujak Center for Urban Studies

“Keterampilan lainnya yaitu berani mengakui kesalahan. Keterampilan-keterampilan tersebut, menurut saya, harus dipupuk mulai sekarang,” pungkasnya.*)

*) Tulisan ini disusun berdasarkan Konferensi Pers FLS hari pertama.

Reporter: Wahyu Hidayat, Luthfi M.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *