19/09/2021

Trilema Pandemi, Perkuliahan Tatap Maya, dan Problem Kesehatan Mental

Ilustrasi Masalah Kesehatan Mental Di Masa Pandemi dan Perkuliahan Tatap Maya (Gambar : Dita Suci / LPM OPINI)

LPM OPINI – Pandemi Covid-19 telah mengubah berbagai aspek kehidupan masyarakat. Dari segi pendidikan tinggi misalnya, sistem perkuliahan jarak jauh secara tatap maya telah diberlakukan selama hampir genap satu tahun. Tidak mudah bagi mereka yang terdampak untuk beradaptasi dengan segala perubahan yang terjadi akibat situasi ini, khususnya mahasiswa. 

Mereka menghadapi berbagai tantangan baru yang tidak mudah selama perkuliahan online, seperti perubahan sistem pengajaran dan metode pengerjaan serta pengumpulan tugas, kendala jaringan, terbatasnya sosialisasi, hingga masalah finansial. Hasil survei yang diadakan oleh mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Universitas Katolik Atma Jaya yang melibatkan 182 mahasiswa Kedokteran Angkatan 2017 menunjukkan bahwa dari 55 responden yang mengisi, 40 di antaranya mengaku mengalami masalah kesehatan mental selama menjalani perkuliahan daring. Dari 40 orang tersebut, 23 orang merasa cemas, 32 orang merasa cemas dan stres, serta 4 orang merasakan ketiganya, yaitu cemas, stres, dan depresi.

Akan tetapi, menurut Weny Savitry S. Pandia selaku psikolog sekaligus Dosen Psikologi Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, gangguan kesehatan mental selama perkuliahan daring merupakan hal yang wajar dialami oleh mahasiswa.

“Wajar terjadi apabila mahasiswa tidak memiliki kemampuan untuk mengatasi tekanan serta tidak ada pihak lain yang membantu saat mereka kesulitan. Hal ini akan membuat masalah semakin menumpuk sehingga gangguan mental bisa muncul,” jelas Weny saat diwawancarai LPM OPINI pada Jumat (5/2).

Ia juga menemukan beberapa faktor yang menjadi sumber keresahan mahasiswa selama perkuliahan online, salah satunya yakni sosialisasi mahasiswa yang menjadi terbatas, khususnya bagi mahasiswa baru. Hal ini selaras dengan apa yang dirasakan Febronia Jessica, salah seorang mahasiswa baru Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro. 

“Tadinya excited sama kuliah, tapi lama-lama jadi capek. Kita, para mahasiswa baru, butuh bersosialisasi di kampus, tetapi sangat disayangkan enggak bisa,” keluhnya.

Weny beranggapan bahwa masalah tersebut cukup krusial mengingat mahasiswa baru memiliki kebutuhan yang besar akan pertemanan. Tak hanya perkara sosialisasi, tetapi adaptasi pun menjadi hal yang mau tidak mau harus dihadapi para mahasiswa baru dalam memasuki dunia perkuliahan. Padahal dengan kuliah luring, para mahasiswa baru bisa mendapat arahan dari kakak tingkat dan dosen pembimbing akademik secara langsung.

“Kalau dilihat dari karakteristik mahasiswa remaja, apalagi mahasiswa di semester awal, ciri khas mereka adalah kebutuhan yang besar akan pertemanan. Namun, karena kuliah daring, proses bersosialisasi mereka dengan teman-teman baru menjadi terbatas. Masalah lain yang juga dialami oleh mahasiswa baru adalah penyesuaian cara belajar yang cukup berbeda dari masa SMA,” jelasnya.

Keefektifan kuliah online rupanya patut dipertanyakan mengingat hal ini ternyata turut berimbas terhadap proses pembelajaran mahasiswa. Aulia Radityatama, mahasiswa semester 4 Fakultas Ilmu Komputer Universitas Indonesia, mengungkapkan bahwa ia membutuhkan energi yang lebih banyak saat belajar untuk kuliah online.

“Aku merasa bahwa effort yang dibutuhkan dalam belajar selama kuliah online lebih banyak daripada saat kuliah offline. Nilai, sih, tetap aman, tetapi itu juga dapat tercapai setelah melewati berbagai kendala, seperti kesulitan set-up tools belajar yang dibutuhkan dan tugas yang sangat banyak tanpa bisa diskusi langsung dengan teman-teman,” ungkapnya.

Tak dapat dimungkiri bahwa kesulitan-kesulitan tersebut dapat mengundang kecemasan serta rasa stres terhadap para mahasiswa. Sebagai upaya untuk mengatasi rasa stres, Weny memperkenalkan suatu istilah yang disebut coping strategy.

Coping strategy adalah cara bagaimana seseorang berusaha mengatasi stres yang dimilikinya. Pertama, terdapat istilah emotional coping strategy atau strategi yang fokus dalam meredakan hal-hal yang berkaitan dengan emosi, seperti marah, takut, dan bosan. 

“Setelah berhasil meredakan emosi, barulah kita fokus pada penyelesaian masalahnya. Ini dikenal dengan sebutan problem focus coping. Contohnya, mendapat nilai jelek dapat diatasi dengan mengubah cara belajar,” jelasnya.

Meskipun terdapat teknik yang bisa dilakukan secara mandiri, Weny tetap menganggap bahwa kampus, sebagai institusi pendidikan tinggi, turut memegang peran penting dalam upaya pencegahan gangguan mental pada mahasiswa. Ia menyarankan tiap kampus atau fakultas memiliki biro konseling untuk para mahasiswa yang membutuhkan penanganan khusus berupa bantuan profesional atas situasi problematik yang tengah dihadapi. 

Hal tersebut rupanya juga menjadi harapan Febronia terhadap sistem perkuliahan ke depannya. “Aku harap regulasi perkuliahan bisa lebih berpihak pada mahasiswa. Kuliah online adalah hal yang baru untuk kita semua, jadi jangan dikira ini adalah hal yang mudah. Aku harap semua pihak bisa saling membantu serta memikirkan kesehatan mental para mahasiswa,” tutupnya.

 

Penulis : Almira Khairunnisa

Editor : Annisa Qonita

Redaktur Pelaksana : Luthfi Maulana

Pemimpin Redaksi : Langgeng Irma

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *