YANG HILANG TANPA PERGI
Cerpen Yang Hilang Tanpa Pergi (Desain: Aulia Laila Khalila)
Dulu, setiap pagi selalu diawali dengan suara tawa. Entah karena rebutan tempat duduk di meja makan, atau karena saling melempar komentar soal rambut siapa yang paling berantakan. Tapi sekarang, pagi hanya diisi oleh denting sendok di piring, dan langkah kaki yang terburu-buru menuju pintu.
Adira pelan-pelan mulai menyadari bahwa kakaknya, Indira, sudah berubah.
Bukan berubah menjadi jahat. Hanya saja, mereka menjadi jauh. Dulu mereka biasanya mengobrol sebelum tidur. Tetapi sekarang, lampu kamar Indira lebih sering padam sebelum Adira sempat menyapa. Dulu mereka suka saling tukar cerita tentang teman, mimpi, atau bahkan hal sepele seperti rasa kue buatan Ibu. Sekarang, rasanya semua menjadi asing dan hening.
Adira paham; mereka tidak lagi kecil, tidak lagi sama.
Setelah Ayah berpulang lima tahun lalu, semuanya berubah. Ibu hanya ibu rumah tangga yang berjualan kue kecil-kecilan untuk menyambung hidup. Sementara Indira, sejak lulus kuliah, memutuskan untuk langsung bekerja. Pagi berangkat sebelum matahari terbit, malam pulang saat jam dinding hampir ke angka sepuluh.
Awalnya Adira mencoba memahami. Tapi makin lama, rasa rindu itu mulai terasa. Ia ingin kakaknya yang dulu. Kakak yang suka menggoda, mengelus rambutnya waktu ia menangis, dan mendengarkan curhat soal nilai ulangan.
Suatu malam, Adira coba mendekat lagi. Saat Indira duduk di ruang tamu sambil mengetik di laptopnya, Adira ikut duduk di sampingnya.
“Kak, kamu ingat nggak pas dulu kita main hujan terus dimarahin Ibu?” tanyanya pelan.
Indira hanya mengangguk tanpa menoleh. Jemarinya terus menari di atas keyboard.
“Kak… Dira kangen, tahu.”
Kali ini Indira berhenti sebentar, tapi masih tak menjawab. Ia hanya menarik napas panjang, lalu kembali mengetik.
Adira diam. Ada yang sesak, tapi tak bisa diungkapkan.
Sejak itu, Adira tahu, usahanya belum cukup. Tapi ia tidak menyerah begitu saja.
Beberapa kali, Adira mencoba mendekat lagi. Ia menunggu di ruang tamu saat suara motor Indira terdengar di depan rumah. Dengan senyum canggung, ia menyodorkan secangkir teh hangat, berharap itu bisa jadi awal percakapan kecil. Tapi yang didapatnya hanya anggukan singkat, disertai ucapan pelan, “Makasih,” sebelum Indira pergi ke kamar.
Suatu sore, Adira membuat camilan kecil, resep lama favorit mereka. Cookies coklat dengan taburan choco chips diatasnya yang dulu sering mereka perebutkan. Ia letakkan di meja, disertai catatan kecil, “Masih ingat rasa ini, Kak?” Tapi kue itu tetap utuh hingga malam. Saat ia bangun keesokan harinya, piring itu sudah kosong, tapi tanpa jejak balasan.
Pernah juga, Adira menempelkan selembar post-it warna oranye cerah di pintu kulkas. Tulisan tangannya sedikit miring, tapi jelas:
“Semangat hari ini ya, Kak. Aku masak nasi goreng. Kalau kamu lapar, tinggal panaskan.”
Namun malamnya, pintu kulkas tertutup seperti biasa. Tak ada catatan balasan. Tak ada senyum.
Lama-lama, diam itu menyiksa.
Adira mulai bertanya dalam hati, apa kakaknya memang sudah tak peduli lagi? Atau semua ini hanya soal waktu dan lelah yang belum sempat reda?
Puncaknya datang di suatu sore.
Hari itu, hujan turun deras sejak siang. Adira baru pulang dari sekolah, pakaiannya agak basah meski sudah berlari dari angkot ke rumah. Ia masuk pelan-pelan, melewati ruang tamu yang gelap, lalu membuka pintu kamar.
Dan menangis.
Bukan karena hujan, bukan karena dingin, tapi karena perasaan kehilangan yang terus tumbuh di dadanya, seperti bunga yang layu dalam diam. Ia menangis sambil duduk di lantai, memeluk lutut, menggigit lengan baju agar isakannya tak terdengar.
Ia tidak menginginkan segalanya kembali sempurna. Ia hanya ingin merasa dekat lagi. Seperti dulu. Seperti waktu mereka sama-sama kehilangan Ayah, tapi bisa saling genggam tangan dan tetap merasa utuh.
Esok paginya, sebelum Indira berangkat kerja, Adira diam-diam masuk ke kamar kakaknya. Ia tahu Indira menyimpan tasnya di dalam lemari. Ia membuka laci kecil di bawah meja kerja dan menyelipkan secarik surat. Yang paling jujur yang pernah ia tulis:
Kakak,
Aku tahu kamu lelah. Aku tahu kamu merasa harus jadi kuat sejak Ayah nggak ada. Tapi aku di sini. Dan aku juga butuh kamu. Bukan yang selalu bisa segalanya. Cukup jadi kakakku aja. Yang dulu suka peluk aku kalau aku takut. Yang dulu suka ketawa sama aku karena hal remeh. Aku masih anak kecil, Kak. Tapi aku ngerti kamu berubah karena keadaan. Cuma, aku masih di sini, loh. Masih nunggu kamu balik. Ke aku.
Hari-hari berikutnya berjalan seperti biasa, atau tepatnya, tetap sepi. Tak ada tanda-tanda surat itu dibaca. Tapi Adira tetap menunggu. Di meja makan. Di ruang tamu. Di momen-momen sepi sebelum tidur.
Sampai malam itu datang.
Adira baru selesai mencuci piring. Saat ia masuk kamar, ia menemukan sesuatu di atas bantal. Sebuah amplop putih, dengan tulisan tangan yang sangat ia kenal. Tangan yang dulu menulis catatan kecil di buku hariannya. Tangan yang dulu menggambar bintang-bintang di ujung kertas mereka waktu sekolah dasar.
Ia membuka pelan-pelan.
Dira,
Aku sudah baca suratmu.
Maaf ya… Aku terlalu takut nunjukin kalau aku capek. Aku pikir, kalau aku kelihatan rapuh, semuanya bakal makin hancur. Aku pikir, kalau aku jaga semuanya, kamu tetap bisa tumbuh tanpa harus mikirin beratnya hidup kita.
Tapi ternyata aku malah ninggalin kamu.
Terima kasih udah tetap di sini. Maaf aku udah bikin kamu ngerasa sendiri. Aku kangen juga, Dir. Kangen banget.
Besok… boleh ya, kita sarapan bareng lagi?
Air mata Adira jatuh tanpa bisa ia tahan. Tangannya gemetar saat melipat kembali surat itu dan memeluknya erat-erat, seolah dari kertas itu ia bisa mencium kembali hangatnya sosok kakaknya.
Tak banyak yang ia pikirkan malam itu. Ia keluar kamar, berjalan pelan ke kamar Indira yang pintunya sedikit terbuka. Indira duduk di lantai, memeluk lututnya sendiri. Rambutnya sedikit acak-acakan, wajahnya basah. Mereka bertatapan.
Adira ikut duduk. Tanpa kata.
Beberapa saat kemudian, suara Adira pelan terdengar, nyaris seperti bisikan.
“Aku nggak minta kakak jadi kuat terus,” ucapnya. “Aku cuma mau kakak tetap jadi kakak. Yang bisa aku ajak ngobrol. Yang bisa duduk bareng kayak gini.”
Indira menoleh. Matanya memerah, ia tidak langsung menjawab. Hanya menggeser sedikit tubuhnya, cukup untuk membuat ruang di antara mereka terasa penuh kembali.
Kemudian ia berkata, “Maaf, ya. Aku lama banget sadar kamu nungguin aku.”
Adira menggeleng.
“Boleh, kan… kita mulai lagi?”
Malam itu, tak ada pelukan besar, tak ada kata-kata mewah. Hanya dua saudara yang saling mengakui lelahnya. Dan itu cukup. Karena kehilangan paling sunyi bukan tentang kepergian, tapi tentang jarak yang tumbuh di tengah kehadiran.
Dan sejak malam itu, jarak itu mulai runtuh.
Penulis: Ogya Hasna
Editor: Kayla Fauziah
Pemimpin Redaksi: Kayla Fauziah
Desain: Aulia Laila Khalila